Berikut adalah hasil pekerjaan saya untuk memenuhi tugas ujian praktik berpidato Bahasa Indonesia.

Saya mencantumkan sebuah link yang nantinya dapat diakses untuk melihat video yang telah saya buat. Saya juga minta maaf karena tidak dapat  mengunggah video yang telah saya buat secara langsung pada blog ini.

https://drive.google.com/file/d/0B8Ms81Il7Km9T3h0NlZFLTJPZmM/view?usp=drive_web

Sekian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat.

Berikut adalah hasil kerja saya untuk ujian praktik menulis cerpen Bahasa Indonesia, saya memilih pilihan ketiga.
PETAKA TELOLET

Kelamaan jadi jomblo itu rasanya parah banget. Setiap malam tidak ada yang mengucapkan “selamat malam sayang, semoga mimpi indah ya.” dan kalau pagi pun tidak ada yang mengucapkan “selamat pagi sayang, semangat ya untuk hari ini.” itu rasanya nyesek banget. Apalagi pagi-pagi cek postingan social media yang isinya pacaran semua rasanya tambah nyesek. Itulah yang dirasakan Udin saat ini. Udin yang biasa dipanggil Didin, statusnya  jones (jomblo ngenes). Walau jones, ia masih punya sahabat paling berharga kok sejak SD, namanya Rusli yang selalu menemaninya di kala ia sedang bad mood dan kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumah Udin. Udin tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu mewah bersama kedua orangtuanya dan juga adiknya yang bernama Asri. Suasana sekitarnya masih indah dikelilingi tanaman dan bunga hias.
Sore hari itu, Udin yang hendak pulang dari aktivitas sekolahnya, seperti biasa ia nebeng Rusli. Di sepanjang perjalanannya ke rumah, mereka asyik mengobrol tentang apa saja informasi yang sedang booming.
“Din, wes denger Telolet durung?” tanya Rusli. “Hah ? Opo kuwi? Panganan? ” jawab Udin.
“Pfftt.. kuwi loh sing booming ning social media, mengko tak tunjukin wes…, ” ujar Rusli.
Sambil menahan rasa penasaran, Udin mengalihkan pembicaraan berita tersebut ke hal lain.
“Rus, kepiye hubunganmu karo kae? Masih langgeng tho?” tanya Udin.
“Eciyeee.. ono opo iki ? Kepo.., ” saut Rusli sambil memikirkan sesuatu.
"Ya elah semprul, ” sambung Udin.
“Hahaha, masih kok, masih.. Lha kowe? Jonesnya masih langgeng?” ujar Rusli.
“Semprul kowe ya.., ” saut Udin sambil menahan tawa.
Selow wae Din, urusan jodoh kuwi wis ono sing ngatur kok, santai wae, ” ujar Rusli.
Setelah perbincangan tersebut, mereka mampir terlebih dahulu di sebuah warung makan dan memesan beberapa makanan.
“Rus, kuwi bocah pada ngapain nggo papan ning pinggir dalan?” tanya Udin.
“Mengko kowe bakalan ngerti.., ” jawab Rusli.
Tak lama berselang, mereka melihat anak-anak itu berteriak “Om Telolet om~” berulang kali sambil berjingkrakan setiap ada bus lewat. Dan tak lama setelah mereka berteriak kalimat tersebut, sang supir bus membunyikan klakson teloletnya, “Telolelololet~” dan anak-anak itu pun seolah merayakan sesuatu yang membuat diri mereka bangga akan hal itu.
“Hahahahaha.. apa-apaan kuwi, dadi ora isoh makan aku.., jadi kuwi toh yang kamu maksud Telolet, ” saut Udin sambil tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, seru kan. Besok kan libur, aku ajak teriak-teriak Om telolet om deh bareng yang lain.., ” sambung Rusli.
"Okee, beneran lho yaa.., " sambung Udin. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan pulang dan sampai di rumahnya masing-masing.
Keesokan harinya, Rusli datang ke rumah Udin.
“Didin.. Didin…,” ucap Rusli sambil mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka,
“Eh Asri, masmu ada?” tanya Rusli.
“Bentar Kak…, Maaasss.. Maaasss temenmu dah dateng, ” teriak Asri.
Udin langsung menghampiri Rusli.
“Eh, jadi Rus? Opo gak kepagian?” tanya Udin sambil mengenakan jaket.
“Iya.. ayoo..,” saut Rusli sambil memakai helmnya.
“Eh Mas mau kemana? Adik ikut dong.., ” ujar Asri.
“Lain kali aja ya Dik, mas mau nyari Telolet-Telolet dulu.” jawab Udin.
Laah.. Kalau gitu nanti beliin es krim ya?” sambung Asri.
“Iya.. nanti bilang ke ibu mas main dulu ya, ” saut Udin dan langsung berangkat nebeng Rusli.
“Sri, Didin mana ?” tanya ibu.
“Oh Mas Didin tadi main sama temen-temennya, katanya sih mau nyari telolet Bu, ” jawab Asri.
“Lah, telolet panganan telo itu toh?” sambung ibu.
“Hahaha, bukan Bu, itu loh klakson bus yang lagi terkenal, yang bunyinya Telolelolet~, ” ucap Asri.
“Ohhh, ketimbang ngono mending yo ngaji ning masjid kae lho.” ucap ibu.
Sementara itu Udin, Rusli, dan teman-teman lainnya sedang asyik berburu telolet.
“Om Telolet Om…,” teriak Udin.
Mereka begitu bahagia dengan aksinya tersebut. Mereka semakin larut dalam kesayikan hingga lama-kelamaan teman-teman Udin yang ikut dalam aksi tersebut mulai pulang karena waktu hampir sore. Rusli yang terlihat begitu lelah membujuk Udin untuk pulang.
“Din ayo bali.., wis sore iki..,” ucap Rusli berulang kali.
“Kosek.., iki gek seru-serune bos.” saut Udin.
Saat sedang berdebat tersebut, ada polisi yang sedang menertibkan fenomena telolet di sepanjang jalan lengkap dengan mobil patrolinya datang ke arah mereka. Mereka terkejut melihat hal tersebut dan langsung tancap gas pulang ke rumah karena mereka tidak ingin terkena masalah atas aksinya tersebut. Sampai akhirnya mereka sampai di rumah Udin.
“Wuiiih.., bejo tenan iki ora ketangkep.” ucap Udin sambil mengelus dada.
“Wis tak kandani tho. Aku sih bejo.., delok kae sing ning ngarep pintu omahmu.” ucap Rusli sambil menyeringai dan langsung tancap gas pulang ke rumahnya.
“Waduuuh..,” ucap Udin sambil menepuk jidat.
“Didin…, sini!” teriak ibu.
“Inggih Bu.” ucap Didin dengan raut wajah cemas.
“Walah tole.. tole.., main kok ora ingat waktu. Delok jam piro iki? Wis sholat hurung?” ucap ibu sambil menjewer telinga Udin.
“Inggih Bu, maaf. Didin tidak akan mengulangi lagi” ucap Udin dengan wajah menyesal.
“Koe kuwi entuk dolan ning kudu ngerti opo wae kewajiban sing kudu dilaksanakan disik karo sing ora. Huuh.., yo wis, ojo baleni maneh. Kono.., mandi, sholat terus ngaji.” ucap ibu.
Kemudian Udin masuk rumah dan melanjutkan aktivitas kesehariannya.

About this blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Menu

Contact us

Nama

Email *

Pesan *

Popular Posts